PERHATIAN!!
Layanan ini hanya MEMPERMUDAH anda dalam pencarian KTI Skripsi karena kami tahu betapa sulitnya mencari data dan menyusun KTI/Skripsi. Dengan memanfaatkan Layanan ini anda bisa menghemat waktu, tenaga dan biaya dalam menyusun tugas akhir.
Anda mungkin tidak akan datang ke blog ini untuk kedua kali, atau sebelum judulnya diajukan oleh teman, jadi manfaatkan pesan sekarang juga.
Jika anda memesan hari ini, sebelum pukul 23.59 WIB dapatkan 10 BONUS untuk menunjang KTI Skripsi anda, KLIK DISINI untuk melihat Bonusnya

Telusuri Skripsi atau KTI yang Anda Cari di Bawah ini :

Minggu, 29 September 2013

Hubungan antara Anemia dengan Kejadian Dismenorea

KTI SKRIPSI
Hubungan antara Anemia dengan Kejadian Dismenorea

BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
     Masa depan suatu bangsa ditentukan oleh kuantitas dan kualitas dari generasi muda. Dilihat dari segi kuantitas, jumlah penduduk usia remaja (10-19 tahun) di Indonesia adalah sebesar 22,2 % dari tabel penduduk Indonesia terdiri dari 50,9 % laki-laki dan 49, 1 % perempuan. Kelompok ini pada lima tahun terakhir merupakan salah satu pembahasan utama, karena gaya hidup mereka yang unik dan berbeda dengan kelompok umur lainnya dari generasi sebelumnya. Sifat energik pada usia remaja menyebabkan aktifitas fisik tubuh meningkat. Selain itu keterlambatan tumbuh kembang tubuh pada usia sebelumnya akan dikejar pada usia ini. Namun akhir-akhir ini beberapa penelitian menunjukkan tingginya angka kejadian anemia pada remaja putri. Menurut WHO Regional Office SEARO, salah satu masalah gizi remaja putri di Asia Tenggara adalah anemia defisiensi zat besi yaitu kira-kira 25-40% remaja putri menjadi korban anemia tingkat ringan sampai berat (Kusin, 2002). Bagi anak-anak dan remaja putri khususnya anemia dapat menyebabkan turunnya gairah belajar, konsentrasi serta dapat mengganggu pertumbuhan seperti tinggi dan berat badan yang tidak sempurna. Selain itu, daya tahan tubuh akan menurun sehingga mudah terserang penyakit. Bagi remaja yang memiliki aktifitas tinggi maka anemia dapat mempengaruhi masa haid remaja misalnya dismenorea.
Di Amerika Serikat, diperkirakan hampir 90% remaja mengalami dismenorea dan 10-15% diantaranya mengalami dismenorea berat, yang menyebabkan mereka tidak mampu melakukan pekerjaan apapun. Dan ini juga akan menurunkan kualitas hidup. Studi epidemiologi pada populasi remaja (berusia 12-17 tahun) di Amerika Serikat, Klein dan Litt melaporkan prevalensi dismenorea sebanyak 59,7%. Dari mereka yang mengeluh nyeri, 12% berat, 37% sedang, dan 49% ringan. Studi ini juga melaporkan bahwa dismenorea menyebabkan 14% remaja sering tidak masuk sekolah. Studi longitudinal dari Swedia juga melaporkan dismenorea pada 90% remaja yang berusia kurang dari 19 tahun dan 67% remaja yang berusia 19-21 tahun (French, 2005).
Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 2004 pada anak-anak angka anemia defisiensi besi pada balita 39% dan anak usia 5-11 tahun 24% (Tarwoto dan Wasnidar, 2007). Prevalensi anemia pada remaja putri di tiga Sekolah Menengah di Jakarta Timur dengan usia rata-rata 15,6 tahun adalah sebesar 21% (Angeles dan Adeppa, 1997). Hasil penelitian yang dilakukan Lestari di SMU Cibinong, Ciawi, Leuwang dan Parung Kabupaten Dati II Bogor pada bulan Agustus 1997 – Januari 1998 menunjukkan prevalensi anemia remaja putri (16-19 tahun) sebesar 50,5% yang meliputi anemia ringan sebesar 47,3% dan anemia sedang 3,2%. Penelitian ini juga dilakukan di perkampungan miskin di Jakarta Utara menunjukkan prevalensi anemia remaja putri (15-19 tahun) ada 71,4% (Surjadi, 2002). Penelitian lain juga telah dilakukan pada 71 siswi kelas I dan II Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, memperoleh hasil bahwa prevalensi anemia defesiensi besi sebesar 57 % dan non besi 20 % dari subjek penelitian (Sayogo, et. al, 2002).
Jumlah kejadian anemia pada remaja putri tingkat Sekolah Menengah Pertama  di Kota yang terdata yaitu sebanyak 369 kasus dan pada Sekolah Menengah Atas  yang terdata yaitu sebanyak 331 kasus, sedangkan tingkat kejadian dismenorea pada siswi Sekolah Menengah Pertama yang sudah terdata yaitu sebanyak 35 kasus dan pada siswi Sekolah Menengah Atas yang sudah terdata yaitu sebanyak 34 kasus (DKK 2008).
     Jika dilihat dari gejala anemia dan dismenorea ada beberapa persamaan seperti gejala pusing, mual dan pucat. Haid dapat mengakibatkan remaja mengalami anemia misalnya pada kasus hipermenorea. Namun anemia khususnya anemia defesiensi besi dapat memperberat terjadinya dismenorea.
     Penulis sangat tertarik mengambil topik ini dengan judul Hubungan anemia dengan kejadian dismenorea pada mahasiswa Akademi kebidanan tahun, karena : 1). Perempuan (remaja) setiap bulannya mengalami menstruasi yang secara otomatis mengeluarkan darah. Itu sebabnya perempuan membutuhkan zat besi untuk mengembalikan kondisi tubuhnya ke keadaan semula, selain itu kekurangan zat besi merupakan salah satu hal yang dapat mengakibatkan dismenorea, 2). Anemia dan dismenorea sama – sama dapat mengakibatkan penurunan konsentrasi belajar dan efek jangka panjang dapat mengakibatkan penurunan prestasi, 3). Kadang-kadang ada beberapa mahasiswa yang mengkambinghitamkan dismenorea untuk mendapatkan izin tidak masuk kuliah. Namun penulis tidak pernah melihat ketidakhadiran mahasiswa itu disebabkan oleh anemia, padahal dari hasil survei yang dilakukan untuk pemeriksaan kadar Hb pada tanggal 07 - 14 Juni 2009, mahasiswa tingkat I yang mengalami anemia yaitu sebanyak 56 mahasiswa dari 63 mahasiswa (88, 89%), mahasiswa tingkat II yang mengalami anemia yaitu sebanyak 34 mahasiswa dari 45 mahasiswa (75, 56%) dan mahasiswa tingkat III yang mengalami anemia yaitu sebanyak 33 mahasiswa dari 39 mahasiswa (84, 62%) tidak pernah memohon izin untuk tidak masuk kuliah karena anemia.

1.2    Rumusan Masalah
     Berdasarkan permasalahan di atas, maka rumusan masalahnya adalah bagaimanakah Hubungan antara anemia dengan kejadian dismenorea pada Mahasiswa Akademi Kebidanan Tahun ?

1.3    Tujuan Penelitian
1.3.1    Tujuan Umum
Adapun tujuan umum penulis untuk mengetahui hubungan antara Anemia dengan Kejadian Dismenorea pada Mahasiswa Akademi Kebidanan tahun .
1.3.2    Tujuan Khusus
Berdasarkan tujuan umum diatas, maka tujuan khusus yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah :
1.3.2.1    Untuk mengetahui frekuensi mahasiswa Akademi Kebidanan yang mengalami anemia.
1.3.2.2    Untuk mengetahui frekuensi mahasiswa Akademi Kebidanan yang mengalami dismenorea.
1.3.2.3    Untuk mengetahui hubungan anemia dengan kejadian dismenorea pada mahasiswa Akademi Kebidanan
1.3.2.4    Untuk mengetahui kemungkinan berapakali lebih besar anemia mempengaruhi dismenorea.

1.4    Manfaat Penelitian
1.4.1    Bagi Penulis
Sebagai pengembangan kemampuan penelitian sehingga dapat mengaplikasikan ilmu yang telah didapat di bangku perkuliahan dan dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan bagi penulis dalam penelitian ilmiah.
1.4.2    Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dan perbandingan untuk penelitian lebih lanjut di masa yang akan datang.
1.4.3    Bagi Mahasiswi Akademi Kebidanan
Penelitian ini diharapkan dapat menurunkan angka kejadian anemia dan dismenorea pada mahasiswi Akademi Kebidanan 
1.4.4    Bagi Institusi Pendidikan
Dapat dijadikan sebagai sumber informasi penelitian selanjutnya bagi mahasiswi DIII Kebidanan yang akan melakukan penelitian lebih lanjut.

1.5    Hipotesis
Pernyataan sementara yang perlu di uji kebenarannya.
1.5.1    Hipotesis nol (Hо)
Hipotesis yang menyatakan tidak ada hubungan anemia dengan dismenorea pada mahasiswa Akademi Kebidanan
1.5.2    Hipotesis alternative (Ha)
Hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara anemia dengan dismenorea pada mahasiswa Akademi Kebidanan

silahkan download KTI SKRIPSI
Hubungan antara Anemia dengan Kejadian Dismenorea
KLIK DIBAWAH 

BELUM KETEMU JUGA cari lagi DISINI: