PERHATIAN!!
Layanan ini hanya MEMPERMUDAH anda dalam pencarian KTI Skripsi karena kami tahu betapa sulitnya mencari data dan menyusun KTI/Skripsi. Dengan memanfaatkan Layanan ini anda bisa menghemat waktu, tenaga dan biaya dalam menyusun tugas akhir.
Anda mungkin tidak akan datang ke blog ini untuk kedua kali, atau sebelum judulnya diajukan oleh teman, jadi manfaatkan pesan sekarang juga.
Jika anda memesan hari ini, sebelum pukul 23.59 WIB dapatkan 10 BONUS untuk menunjang KTI Skripsi anda, KLIK DISINI untuk melihat Bonusnya

Telusuri Skripsi atau KTI yang Anda Cari di Bawah ini :

Hubungan antara Karakteristik Ibu dengan Status Gizi Balita

KTI SKRIPSI
HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK IBU DENGAN STATUS GIZI BALITA

ABSTRAK
Masalah kurang gizi masih merupakan masalah pokok masyarakat dari dulu hingga sekarang dengan berbagai faktor yang mendukung masih sangat kompleks. Anak balita merupakan kelompok yang menunjukkan pertumbuhan yang pesat sehingga memerlukan perhatian yang lebih untuk kondisi kesehatannya. Status gizi yang dipengaruhi oleh masukan zat gizi, secara tidak langsung dipengaruhi oleh karakteristik keluarga khususnya ibu. Karakteristik ibu ikut menentukan keadaan gizi anak balita. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara karakteristik ibu yang dalam hal ini berupa karakteristik umur, pendidikan, pekerjaan, pengetahuan dan paritas ibu di Kelurahan Kecamatan.
Jenis penelitian bersifat explanatory research (penelitian penjelasan). Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini semua ibu yang mempunyai balita di Kelurahan Sekaran dengan sampel sebanyak 90 ibu dan balita. Pengambilan data dilakukan dengan pengukuran antropometri (BB), penyebaran kuesioner dan wawancara kepada ibu balita. Uji statistik yang digunakan adalah Chi Square untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur ibu hamil terbanyak pada umur 20-35 tahun (72,2%), pendidikan ibu tergolong rendah < 9 tahun (45,6%), status pekerjaan ibu diluar rumah < 6 jam (76,7%), pengetahuan ibu rata-rata baik (74,4%) dan paritas ibu < 4 anak (82,2%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara pekerjaan ibu (X2: 13,923 > X2 tabel: 3,481,p: 0,000 < 0,05), pengetahuan ibu (X2: 7,416 > X2 tabel: 3,481,p: 0,000 < 0,05), paritas ibu (X2: 12,950> X2 tabel: 3,481,p: 0,000 < 0,05) dengan status gizi balita. Tidak ada hubungan antara umur ibu (X2: 0,119 < X2 tabel: 3,481,p: 0,730 > 0,05), pendidikan ibu (X2: 2,809 < X2 tabel: 5,591,p: 0,245 > 0,05) dengan status gizi balita.
Saran yang dapat diberikan yaitu diharapkan adanya usaha untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang gizi dan kesehatan yang dapat dilakukan melalui penyuluhan tentang gizi dan kesehatan serta penyuluhan tentang Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dengan cara kunjungan rumah oleh bidan desa setempat atau petugas gizi dari wilayah setempat. Bagi ibu yang mempunyai balita dan harus meninggalkan balita karena kegiatan atau kesibukan diluar rumah, alangkah baiknya balita yang ditinggalkan dapat dipercayakan kepada pengasuh atau anggota keluarga yang lain untuk dirawat dan diberi konsumsi makanan yang baik. Peningkatan keaktifan bagi ibu balita dalam kegiatan posyandu,untuk memantau pertumbuhan balita dan dapat meningkatkan kesehatan bagi anak balitanya
Kata Kunci : Karakteristik Ibu, Status Gizi Balita

BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Arah dan kebijaksanaan pembangunan bidang kesehatan, diantaranya menyebutkan bahwa pembangunan kesehatan diarahkan untuk mempertinggi derajat kesehatan termasuk di dalamnya keadaan gizi masyarakat dalam rangka meningkatkan kualitas hidup serta kecerdasan dan kesejahteraan rakyat pada umumnya (Suhardjo, 2003).
Secara umum terdapat 4 masalah gizi utama di Indonesia yakni KEP(Kurang Energi Protein), KVA(Kurang Vitamin A), Kurang Yodium (gondok endemik) dan kurang zat besi (anemi gizi besi). Akibat dari kurang gizi ini adalah kerentanan terhadap penyakit-penyakit infeksi dan dapat menyebabkan meningkatnya angka kematian (Suhardjo, 2003).
Masalah gizi di Indonesia yang terbanyak meliputi gizi kurang atau yang mencakup susunan hidangan yang tidak seimbang maupun konsumsi keseluruhan yang tidak mencukupi kebutuhan badan. Anak balita (1-5 tahun) merupakan kelompok umur yang paling sering menderita akibat kekurangan gizi (KEP) atau termasuk salah satu kelompok masyarakat yang rentan gizi. (Ahmad Djaeni, 2000)
Gizi kurang atau gizi buruk pada balita dapat berakibat terganggunya pertumbuhan jasmani dan kecerdasan mereka. Kalau cukup banyak orang yang termasuk golongan ini masyarakat yang bersangkutan sulit sekali berkembang.
Dengan demikian jelas masalah gizi merupakan masalah bersama dan semua keluarga harus bertindak atau berbuat sesuatu bagi perbaikan gizi. (Sayogya, 1994)
Keluarga dan warga dalam masyarakat harus mengerti bahwa anak-anak mereka membutuhkan makanan dengan cukup zat gizi demi masa depan mereka. Secara tidak langsung gizi kurang dapat menyebabkan anak-anak mereka meninggal seperti halnya karena serangan penyakit tertentu, gizi kurang memperhebat masalah kesehatan yang dihadapi anak yaitu mudah terserang penyakit, pertumbuhan terhambat dan sebagainya. (Sayogya, 1994)
Balita adalah harapan bangsa. Penundaan pemberian perhatian, pemeliharaan gizi yang kurang tepat terhadap balita akan menurunkan nilai potensi mereka sebagai sumber daya pembangunan masyarakat dan ekonomi nasional. Mereka memerlukan penggarapan sedini mungkin apabila kita menginginkan peningkatan potensi mereka untuk pembangunan bangsa di masa depan. (Suharjo, 2003)
Anak balita sedang mengalami proses pertumbuhan yang sangat pesat, sehingga memerlukan zat-zat makan yang relatif lebih banyak dengan kualitas yang lebih tinggi. Hasil pertumbuhan menjadi dewasa, sangat tergantung dari kondisi gizi dan kesehatan sewaktu masa balita. (Ahmad Djaeni, 2000)
Di negara berkembang anak-anak umur 0 – 5 tahun merupakan golongan yang paling rawan terhadap gizi. Kelompok yang paling rawan di sini adalah periode pasca penyapihan khususnya kurun umur 1 – 3 tahun. Anak-anak biasanya menderita bermacam-macam infeksi serta berada dalam status gizi rendah (Suhardjo, 2003).
Penyapihan yang baik dianjurkan sampai anak berumur 2 tahun. ketergantungan anak terhadap ASI sedikit demi sedikit berkurang. Hal ini berakibat masukan zat gizi hanya mengandalkan dari makanan yang diberikan. Makanan yang kurang gizi mengakibatkan kecukupan zat gizi anak tidak terpenuhi sehingga mudah terkena gizi kurang. Kekurangan gizi pada anak balita dipengaruhi oleh ketidakcukupan konsumsi makanan dengan setiap faktor yang mempengaruhi dari kesehatan anak itu sendiri (Suhardjo, 2003).
Status gizi yang dipengaruhi oleh masukan zat gizi secara tidak langsung dipengaruhi oleh beberapa faktor. Diantaranya adalah karakteristik keluarga. Karakteristik keluarga khususnya ibu berhubungan dengan tumbuh kembang anak. Ibu sebagai orang yang terdekat dengan lingkungan asuhan anak ikut berperan dalam proses tumbuh kembang anak melalui zat gizi makanan yang diberikan. Karakteristik ibu ikut menentukan keadaan gizi anak.
Umur yang baik bagi ibu untuk hamil adalah umur 20 - 35 tahun, karena pada umur yang kurang dari 20 tahun kondisi ibu masih dalam pertumbuhan, sehingga asupan makanan lebih banyak digunakan untuk mencukupi kebutuhan si ibu. Selain itu juga secara fisik alat reproduksi pada ibu yang berumur kurang dari 20 tahun juga belum terbentuk secara sempurna. Pada umumnya rahimnya masih relatif sangat kecil dan tulang panggul belum cukup besar, keadaan ini dapat mengakibatkan gangguan atau terhambatnya pertumbuhan janin. Secara kejiwaan ibu yang berumur kurang dari 20 tahun keadaan emosinya masih labil. Pada umur lebih dari 35 tahun kondisi kesehatan ibu sudah menurun dan rentan terhadap penyakit, di
mana penyakit tersebut dapat mengganggu peredaran darah ke plasenta sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan janin. (Unicef, 2002)
Pendidikan ibu merupakan modal utama dalam menunjang ekonomi keluarga juga berperan dalam penyusunan makan keluarga, serta pengasuhan dan perawatan anak. Bagi keluarga dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan lebih mudah menerima informasi kesehatan khususnya bidang gizi, sehingga dapat menambah pengetahuannya dan mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. (Depkes RI, 1990)
Pengetahuan gizi dipengaruhi oleh berbagai faktor, disamping pendidikan yang pernah dijalani, faktor lingkungan sosial dan frekuensi kontak dengan media massa juga mempengaruhi pengetahuan gizi. Salah satu sebab gangguan gizi adalah kurangnya pengetahuan gizi atau kemauan untuk menerapkan informasi tentang gizi dalam kehidupan sehari-hari. (Suharjo, 2003)
Pada masa sekarang ini jumlah wanita yang terlibat dalam kegiatan ekonomi sebagai tenaga kerja aktif makin meningkat dan tersebar dalam semua sektor pekerjaan. Diantaranya pertanian, industri, jasa dan lain-lain. Salah satu dampak negatif yang dikhawatirkan timbul sebagai akibat dari keikutsertaan ibu-ibu pada kegiatan diluar rumah adalah keterlantaran anak terutama anak balita, padahal masa depan kesehatan anak dipengaruhi oleh pengasuhan dan keadaan gizi sejak usia bayi. Usia bayi sampai anak berumur 5 tahun merupakan usia penting, karena pada umur tersebut anak belum dapat melayani kebutuhan sendiri dan bergantung pada pengasuhnya. (Karyadi D, 1983)
Paritas atau jumlah anak yang dilahirkan ibu sangat berkaitan dengan jarak kelahiran. Semakin tinggi paritasnya, maka semakin pendek jarak kelahirannya. Hal ini dapat membuat seorang ibu belum cukup waktu untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Setelah melahirkan uterus belum dapat pulih sempurna dan termasuk juga sistem sirkulasi, sehingga jika dalam uterus terdapat janin maka pertumbuhan dapat terhambat. (Unicef, 2002)
Paritas yang tinggi dapat menyebabkan kondisi kesehatan ibu menurun dan sering mengalami kurang darah sehingga berpengaruh buruk pada kehamilan selanjutnya, selama hamil terjadi perdarahan lewat jalan lahir dan letak bayi sungsang.
Kelurahan Sekaran merupakan salah satu wilayah yang ada di Kecamatan dan termasuk dalam wilayah kerja Puskesmas Sekaran. Berdasarkan data yang diperoleh bahwa di Kelurahan Sekaran mempunyai jumlah balita yang terbanyak diantara kelurahan yang lain dengan status gizi balita kurang sebanyak 41,1% dan status gizi balita normal sebanyak 58.9%. Sebagian besar ibu balita berpendidikan SD yaitu sebanyak 3 9,6% dan pendidikan SMP sebanyak 48,4% dengan status ibu yang bekerja dan ibu yang tidak bekerja. Hal inilah yang mendorong peneliti untuk mengetahui lebih lanjut mengenai hubungan antara karakteristik ibu dengan status gizi balita di Kelurahan Kecamata.

1.2    Permasalahan
Berdasarkan uraian dalam latar belakang diatas memberi dasar bagi peneliti untuk merumuskan masalah penelitian sebagai berikut :

1.2.1 Permasalahan Umum
Apakah ada hubungan antara karakteristik ibu dengan status gizi balita di Kelurahan  Kecamatan ?
1.2.2 Permasalahan Khusus
1.    Apakah ada hubungan antara umur ibu dengan status gizi balita ?
2.    Apakah ada hubungan antara pendidikan ibu dengn status gizi balita ?
3.    Apakah ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan status gizi balita ?
4.    Apakah ada hubungan antara pekerjaan ibu dengan status gizi balita ?
5.    Apakah ada hubungan antara paritas ibu dengan status gizi balita ?

1.3    Tujuan penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui hubungan antara karakteristik ibu dengan status gizi balita di Kelurahan Kecamatan.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.    Mengetahui hubungan antara umur ibu dengan status gizi balita,
2.    Mengetahui hubungan antara pendidikan ibu dengan status gizi balita,
3.    Mengetahui hubungan antara pekerjaan ibu dengan status gizi balita,
4.    Mengetahui hubungan antara paritas ibu dengan status gizi balita,
5.    Mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu dengan status gizi balita.

1.4    Manfaat penelitian
1.4.1 Bagi Instansi Terkait
Memberikan informasi kepada pihak Puskesmas tentang keterkaitan antara tingkat pendidikan, pengetahuan, pekerjaan, umur, paritas dengan status gizi balita sehingga dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam perencanaan program gizi di wilayah Puskesmas.
1.4.2 Bagi Masyarakat
Memberikan masukan kepada masyarakat khususnya ibu-ibu balita agar lebih mengerti dan memperhatikan kecukupan gizi balita agar selalu dalam kondisi status gizi baik dan terjaga kesehatannya
1.4.3 Bagi Peneliti
Sebagai latihan dalam memecahkan masalah-masalah gizi yang ada di masyarakat dalam lingkup mikro dan hasil penelitian itu dapat digunakan sebagai masukan untuk peneliti selanjutnya.
1.4.4 Bagi Jurusan
Penelitian ini bisa dijadikan referensi untuk diadakan penelitian selanjutnya tentang karakteristik ibu diwilayah yang lain.

silahkan download dalam bentuk dokumen word KTI SKRIPSI
HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK IBU DENGAN STATUS GIZI BALITA
KLIK DIBAWAH 


BELUM KETEMU JUGA cari lagi DISINI: